Friday, June 19, 2009

HUJAN AiRMATA

Tika hujan membasahi bumi,
Airmata turut membasahi pipi,
Rindu pada insane tersayang,
Tidak salah rasanya,
Ku memuja anggun wajahmu,
Kerna cinta tak kenal siapa,
Hadirnya tidak dipaksa,
Titisan hujan seakan memahami,
Jiwa ini yang menderita,
Deruan angin membuka pintu,
Sangkar yang telah lama kubina,
Terpaksa aku melepaskannya,
Untuk menyatakan,
Sekian lama aku cinta padamu,
Untuk mengisi segala kekosongan;
Biar berlinangan airmata darah,
Takkan dapat kuhentikan,
Bibir mudah mengucap sabar,
Tapi hati yang remuk menderita,
Tak sempat manisnya madu,
Pahit terpaksa kutelan,
Bagai sembilu menusuk hatiku,
Entah Kemana dibawa pergi,





Duhai sayang...
Dulu hati ini tiada perasaan,
Kering, Kemarau,
Mungkin berhabuk,
Yang ada sudah pergi,
Yang tiada makin menghilang,
Kadang-kadang kita perlu meluahkan,
Kerna kebisuan sukar ditafsirkan,

Kehadiranmu untuk seketika,
Membawa sinar kebahagiaan,
Mencorakkan jiwa kontang,
Mewarnai kegelapan lampau,
Kasih sayangmu bagaikan baja,
Yang menyuburkan diriku,
Hatiku menggeletar,
Apabila kau dihadapanku,
Hatiku minta dibelai,
Namun cukuplah aku mendapat hatimu,

Masihkah ada ruang bagiku,
Jangan biarkanku terbuang,
Bagaiman untu menebus dosa,
Agar jalinan terpaut kembali,
Semua pintu cubaku buka,
Mengharap masih ada peluang kedua...

No comments:

Post a Comment