Tuesday, July 7, 2009

DOA BUAT KEKASIH...

Andainya aku bertanya,
Padamu tentang bahgia,
Dimana nilai setia,
Dimana puncak cinta,
Mahukah engkau mengerti,
Harapan serupa mimpi,
Iakan dapat terjadi,
Atau hilang tak berganti,
Sejarah mengajar kita,
Menjadi lebih dewasa,
Meniti arus angkara,
Lupakan kisah nan lalu,
Teguhkan tugu imanmu,
Doaku buat kekasih

Yang dulu usah dirindu,
Hilangkanlah dari hatimu,
Doaku buat kekasih....

DIARI SEORANG LELAKI...

Dari semalam ku tunggu,
Fikir kau pulang kepangkuanku,
Ku dengarkan lagu cinta,
Pilihan terbaik kita,
Ku mainkan CD berulang,
Lupakan segala ucapan perpisahan
Yang kau pinta,
Benar dikau ku cinta,
Setiap detik kupuja,
Kau sering perhatiku,
Sambil belai rambutmu,
Tak inginku lupa,
Kenangan yang tercipta,
Belikan aku diari,
Ku tulis setiap hari,
Sejak kata dari tidurku,
Terima panggilan dari jauh,
Katakan saja kau rindu,
Setahu, ku hilang arah,
Ku tempah tiket semalam,
Mala mini kita akan bertemu
Seperti dibawah lampu,

Tercipta kekasih,
Bagai adam dan hawa,
Bergaduh kekasih,
Buat kita sempurna,
Janganlah dipendam,
Luahkan perasaan,
Tiada benci iri hati,
Itulah destinasi.

MUNGKIN...

Mungkin....
tidak menghuraikan apa-apa,
Satu kalimat yang punya tujuh abjad,
Namun mereka mengungkapkannya,
Sinonimnya adalah kebarangkalian,
Jika besar mengukir senyuman,
Duka lara jika kecil pula,
Aku sedar akan kemampuan manusia,
Kewujudan yang Esa tanpa kesangsian,

Mungkin....
Penyataan keadaan ragu-ragu,
Sangkakan panas di tengahari,
Rupanya hujan turun menari,
Bukan menghina yang tua,
Perubahan supaya tidak lupa,
Masyarakat berwawasan dengan kepastian,
Melayu berkeyakinan motivasi diri,
Sejarah buat perdoman,
Berada dalam landasan iman,
Maa’ruf dipuji,
Mungkar jangan dikeji,
Kawan harus ditampi,
Musuh jangan dicari,
Utuhkan cita-cita berinovasi,
Hilangkan kemungkinan dengan perancangan,
Impian pasti diperolehi.


AHBAR-
3 Julai 09

Friday, June 19, 2009

CORETAN TERAKHIR

Pancaran sinar matanya,
Kenakalan anak matanya,
Ditambah kemanisan senyumannya,
Masih merawang-rawang dalam peti fikiranku,
Dulu aku tidak percaya....
Benda yang diperlekehkan itu,
Wujud di bumi nyata,

Mana mungkin boleh gila...
Mana mungkin kecewa...
Hanya kerna CINTA?

Tika mata bertentangan,
Aku dapat melihat keayuan bunga itu,
Aku terpukau oleh keayuannya,
Dengan kelembutannya,
Dengan perwatakanya,
Aku beranikan mendampinginya,

Namun keikhlasan tidak mampu menawan
hati yang satu,
Aku terasa ditusuk,
Pedih amat sekali,
Aku melihat bagai ada sinar harapan,

Tapi ....
Harapan hanya tinggal harapan,
Alasan ditinggalkan tanpa penjelasan...

Ahh...
Bunga bukan sekuntum,
Fizikalku terus dipaksa,
Masa belalu pergi,
Namun bunga itu masih tidak layu
dari kamar hatiku....

Aku cuba menjadi insan berbeza,
Aku cuba menyakitkan hatinya,
Agar dirasai kesakitan ini,
Agar aku dapat melupakan dia,
Kekasih hati,
Walaupun aku terseksa,
Aku doa kan semoga kau bahagia...

BATU BESAR

Kusirami mawar putih,
Pada kenangan lalu,
Agar sentiasa segar mewangi,
Biar aku berduka,
Hanya memori lalu mengubati,
Mungkin bagimu hanya sementara,
Bagiku bagaikan bertahun lamanya,
Aku terlalu rindu...
Rindu pada kilauan matamu,
Senyuman yang terukir manis,
Menanti tutur bicaramu,
Sukar untuk menyatakan kerinduan hati ini,
Bahu ini mengendong batu besar,
Tidak tahu sampai bila,
Akan ku bawa,
Biar kehabisan kudrat sekalipun,
Batu besar takkan kulepaskan,

Tadi, dapat jua aku menatap wajahmu,
Walaupun hanya sementara,
Jiwa ini melonjak gembira,
Seperti bulan jatuh keriba,
Kini bahuku terasa kosong,
Batu besar terlepas dari gendongan,
Adakah akan kubawa kembali?

Jantung ini berdegup kencang,
Aku seperti terpukau,
Mulutku ini terkunci,
Bait-bait perkataan telah kususun,
Tiada satupun dapat kau debgarkan,
Bukan kemaafan yang aku minta,
Namun peluang membetulkan kesalahan.

AHBAR
19 JUNE 2009

HUJAN AiRMATA

Tika hujan membasahi bumi,
Airmata turut membasahi pipi,
Rindu pada insane tersayang,
Tidak salah rasanya,
Ku memuja anggun wajahmu,
Kerna cinta tak kenal siapa,
Hadirnya tidak dipaksa,
Titisan hujan seakan memahami,
Jiwa ini yang menderita,
Deruan angin membuka pintu,
Sangkar yang telah lama kubina,
Terpaksa aku melepaskannya,
Untuk menyatakan,
Sekian lama aku cinta padamu,
Untuk mengisi segala kekosongan;
Biar berlinangan airmata darah,
Takkan dapat kuhentikan,
Bibir mudah mengucap sabar,
Tapi hati yang remuk menderita,
Tak sempat manisnya madu,
Pahit terpaksa kutelan,
Bagai sembilu menusuk hatiku,
Entah Kemana dibawa pergi,





Duhai sayang...
Dulu hati ini tiada perasaan,
Kering, Kemarau,
Mungkin berhabuk,
Yang ada sudah pergi,
Yang tiada makin menghilang,
Kadang-kadang kita perlu meluahkan,
Kerna kebisuan sukar ditafsirkan,

Kehadiranmu untuk seketika,
Membawa sinar kebahagiaan,
Mencorakkan jiwa kontang,
Mewarnai kegelapan lampau,
Kasih sayangmu bagaikan baja,
Yang menyuburkan diriku,
Hatiku menggeletar,
Apabila kau dihadapanku,
Hatiku minta dibelai,
Namun cukuplah aku mendapat hatimu,

Masihkah ada ruang bagiku,
Jangan biarkanku terbuang,
Bagaiman untu menebus dosa,
Agar jalinan terpaut kembali,
Semua pintu cubaku buka,
Mengharap masih ada peluang kedua...

JANJI

Kita banyak bermadah,
Tanpa disedari itulah janji,
Berjanji tanpa menilai kemampuan diri,
Perancangan hamba terbatas,
Dialah yang maha mengetahui,
Tumbuh suburnya balak,
Derasnya aliran sungai,
Flora fauna bersaki-baki,
Percaturannya cukup sempurna,
Kesongsangan terjadi atas sebab kehendaknya,
Khalifah tidak mengotakan janji,
Alpa dengan nafsu sendiri,

Tidak guna duduk termanggu,
Pasangkan kekuda,
Uruskan langkah,
Tunaikan janji-janjimu,
Robekan anasir kemusnahan,
Tingkatkan keimanan,
Hunuskan harapan,
Supaya tidak menari dalam kegelapan,
19 mei 09- AHBAR-